dikejar apa aku sebenarnya
Hari ini, aku baru saja membeli atasan untuk kupakai wisuda minggu depan. Iya, minggu depan. Kalau nggak diingatkan oleh teman, mungkin minggu depan, aku akan gelimpungan karena nggak tau harus pakai apa. Sebab, rencananya, aku baru membeli atasan minggu depan.
Apa sih ini? Kok cepat sekali.
Perasaan, aku yang sebal karena menunggu dosen penguji yang nggak datang-datang itu baru kemarin deh. Kok bisa-bisanya minggu depan sudah wisuda...
Minggu depan, masa-masaku sebagai mahasiswa benar-benar selesai. Aku menghadapi masa baru, yang mengharuskanku untuk lebih dewasa lagi. Ya Tuhan... Saat ingin menjadi dewasa, waktu terasa lambat sekali. Sedangkan saat sudah dewasa, waktu cepat sekali... Ya Tuhan...
Jika dipikirkan kembali, memang nggak secepat itu juga sih. Banyak hal yang kulakukan dan itu bukannya instan.
Aku mondar-mandir ke kampus untuk mengurusi ini dan itu dengan kepala pening sejak Juli. Kepalaku berat mendapati pekerjaanku yang semakin terlihat nggak sempurna, hatiku dongkol saat berurusan dengan orang lain, menangis di toilet FISIP yang jelek itu karena merasa dunia terlalu baik padaku, menimbang-nimbang jadwal orang lain, berteman dengan Bu Fitri, revisi dan revisi, kebingungan karena nggak gugup sama sekali, hampir marah pada dunia karena merasa diberi harapan palsu, revisi lagi, lari ke sana dan ke sini, hingga akhirnya usai.
Jika dipikirkan lagi, itu waktu yang panjang. Aku melakukan banyak hal. Namun, jika diingat, aku baru saja bernapas singkat. Eh, ujuk-ujuk aku sudah di ujung.
Aku berencana membeli atasan yang akan kukenakan di hari wisuda itu minggu depan, tetapi minggu depan ternyata sudah wisuda... Bersamaan dengan itu, usiaku sudah nggak lagi 22 tahun. Usiaku bertambah satu tahun—jika memang aku masih diberi hidup. Cepat sekali. Seingatku, kemarin, aku masih merasa mellow karena aku sudah memasuki kepala dua. Kenapa tiba-tiba sudah hampir tiga tahun aku berkepala dua sih?
Aku ini apa sih? Kenapa waktu getol sekali mengejarku? Aku salah apa ya? Kenapa nggak dibiarkan aku napas sebentar? Huft.
Soal wisuda minggu depan yang bersamaan dengan ulang tahunku, sebenarnya aku sama sekali nggak berniat meromantisasinya. Aku bahkan masih bingung, beneran tanggal 27 itu minggu depan??? Beberapa waktu lalu, aku nggak memikirkannya sama sekali. Namun, jujur, saat ini aku deg-degan.
Detik ini—iya, saat aku nulis ini, aku takut tiba-tiba mati.
Sial. Aku takut mati sebelum usiaku menginjak 23 tahun dan aku takut mati sebelum wisuda yang—entah, siapa yang mati-matian mengejar.
Skenario itu buruk sekali. Memalukan. Miris. Sangat cocok untuk dibuat judul cerita yang amat kasian.
Sial. Jika begitu, kebetulan ini bukan lagi genre romansa yang amat romatis, tetapi genre tragedi yang amat dramatis.
Apa sih ini...
Ini aku yang mengejar atau aku yang dikejar?
Haduh. Aku bahkan nggak tau proposal kegiatan untuk menyambut dan mensyukuri usiaku yang ke-23 itu akan disetujui atau nggak. Aku belum meminta izin pada orang tuaku—yang aku yakin, pasti akan ditangisi ibuku dan dipertanyakan bapakku—walaupun aku yakin, pasti diperbolehkan.
Masa sih aku bakal mati duluan? Jangan, please.
Apa sih ini...
Sebenarnya, kenapa aku merasa dikejar?

Komentar
Posting Komentar