Bukan Tentangmu
Ini bukan lagi cerita tentangmu. Cerita tentangmu telah kusudahi sejak daftar lagu itu tercipta di hari ulang tahunmu. Aku sudah menyudahi rasaku padamu sejak itu, sungguh, meskipun menghapus namamu dalam hidupku terasa seperti angan-angan. Namun, ini bukan lagi cerita tentangmu. Hanya saja, tiba-tiba aku teringat tentang bagaimana aku kala mencintaimu.
Meskipun cinta ini tidak terasa nyata, mencintaimu adalah hal yang menjadi favoritku. Kutorehkan di mana saja semua cerita kita dalam sudut pandangku. Rasanya menyenangkan jika mengingatnya. Semakin diingat, cinta itu tak pernah menjadi lara untukku. Aku menceritakanmu pada seluruh dunia sebagai orang yang benar-benar aku cintai—ya, meskipun si pengecut ini tidak pernah sekalipun menyebut namamu. Namun, kisah-kisah itu semakin mendebarkan tatkala aku kembali mengulang memori dalam ingatanku dan menuliskannya.
Tidak ada hal yang menyakitkan saat mencintaimu bahkan setelah kita berjarak. Namun, keputusanku untuk berhenti meninggalkanmu di titik lalu adalah hal yang cukup memilukan. Kamu tidak pernah menyakitiku, aku lah yang menyakitiku sendiri. Kuputuskan untuk melupakanmu. Keputusan itu, mau tidak mau, harus segera kulakukan. Terjebak dalam situasi semu yang terus membuatku mencintaimu bukanlah hal yang menyenangkan dan benar saja, keputusan untuk menyudahi semuanya adalah hal yang paling benar.
Banyak sekali tulisanku tentangmu, tetapi semuanya lenyap seakan memang itu harus. Aku sendiri yang melenyapkannya. Berharap hal itu dapat membantuku dalam proses melupakan. Ya, keputusanku ada benarnya. Namun, ada kalanya aku merindukan diriku saat mencintaimu. Aku ingin mengingat bagaimana aku yang naif berkelahi dengan perasaanku sendiri. Menyenangkan.
Sebenarnya, aku masih ingat betul bagaimana awal pertama kali melihatmu. Itu jelas bukan cinta pertama. Cintaku bertumbuh kala kita mulai berkenalan dan ternyata we share the matching wounds. Terus bertumbuh seolah cerita ini tercipta begitu indah seperti musim ceri. Ya, seperti lagu yang kamu kirimkan padaku lewat Line kala itu. Perasaanku padamu masih belum terlalu besar. We just friend, best best friend. I know it right. Hanya saja, aku melupakan bagaimana bisa cintaku padamu tiba-tiba membesar. Apakah cinta itu bertumbuh kala hubungan pertemanan kita semakin merenggang? Entahlah. Yang aku ingat, aku merasa gugup setengah mati saat tiba-tiba kamu duduk di sebelahku dan menyanyikan "You're My Everything".
My favorite soundtrack, and you know it too well.
Menyebalkan. MENYEBALKAN. Kamu tidak sendiri, tapi beraninya menyanyikan itu.
Aku tidak memahami mengapa dunia seakan mengutukku dalam mencintaimu. Tidak pernah kulakukan hal yang macam-macam saat aku mencintaimu, tetapi ada saja hal yang membuatku berada posisi paling menyebalkan.
I do love you, really. But, that doesn't mean I want to have you, want to be with you. At least, when you have someone else. I just love you. Silently. I have never written you a letter and although I love writing about you, I have never openly expressed it to you.
Rasanya hatiku tersentil saat kamu memintaku melakukan sesuatu. Even though I was on my peace, not in my pace. Perasaanku langsung ingin kusudahi kala itu. You are the one who has NO boundaries. I didn't anything wrong. HAH. Kamu bodoh, aku juga. We're just two fools who accidentally got involved.
Aku tak mengerti mengapa aku juga dulu tidak memiliki prinsip. Bagaimana bisa aku sudi untuk tetap diam saat kamu duduk di sebelahku? Menjengkelkan. Dasar orang bodoh!
Setelahnya, aku bahkan tak sudi menganggapmu teman. Tak sekali pun sudi memanggil namamu.
Unfortunately, it turns out this is still about you.
Cinta ini tak pernah menyakitiku. Aku sendiri yang menyakitiku. Cinta ini menyenangkan, tetapi juga meyebalkan. Aku terlalu bodoh, pun kamu. Kita ini bodoh.
Sekarang aku tau mengapa kita tak akan pernah bisa bersama, we are just two fools who will fool each other if we're in love.

Najis
BalasHapus